Sabtu, 10 Desember 2011

KEKAYAAN ORANG-ORANG PERCAYA

Efesus 1:3-14

Thema ini merupakan thema yang menarik, karena siapa yang tidak suka kekayaan?
Yohanes 1:12 mengatakan bahwa siapa yang percaya dan menerima Tuhan Yesus, telah diterima sebagai anak-anak Allah. Dan sebagai anak, kita mendapat bagian / warisan dari Bapa kita, bnd. Galatia 4:7
Paulus menyebut warisan tersebut, sebagai "segala berkat rohani di dalam sorga", Efesus 1:3, 18, 2:6-7.
Di dunia ini, warisan yang diterima oleh seorang anak dari orang tuanya tidak sama :
  • Anak laki-laki menerima warisan lebih banyak dibandingkan dengan anak perempuan.
  • Anak sulung yang laki-laki menerima warisan yang berbeda (lebih banyak) dibandingkan dengan anak laki-laki kedua ataupun si bungsu.
Tetapi dalam keluarga Allah, kita sebagai anak-anak Allah mendapat warisan (kekayaan) yang sama. Sebagai orang percaya, kita harus tahu (menyadari) betapa besar kekayaan yang kita dapatkan dari Allah yang adalah Bapa kita. Tentunya bukan kekayaan jasmani tetapi Paulus menyebutnya sebagai kekayaan rohani. Dan kita sebaiknya  bukan hanya tahu..., tetapi dapat menggunakan kekayaan rohani tersebut dalam hidup kita.
Untuk itu maka Paulus menulis surat kepada jemaat Efesus, Paulus berdoa seperti dalam Efesus 1:18 :
" Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus".
Pernah dikisahkan, tentang seorang yang ditemukan mati dengan beralaskan koran. Selidik punya selidik... ternyata orang tersebut adalah seorang yang kaya. Amat disayangkan : seorang yang sangat kaya dan banyak uang tetapi hidup dalam kemiskinan dan sama sekali tidak menikmati kekayaannya. Di dalam kekeristenan juga tanpa kita sadari terjadi hal yang sama. Kita yang diberi kekayaan rohani, tetapi hidup dalam kemiskinan rohani.

Miskin rohani :
  • Hidup dalam ketakutan / kekuatiran yang berlebihan akan masa depan.
  • Terikat dalam dosa, atau seringkali kalah dalam perjuangan melawan dosa.
  • Terikat oleh rasa bersalah. Dan cenderung juga menghakimi secara berlebihan orang yang berbuat dosa.
Dalam 2 Korintus 8:9 Paulus mengatakan bahwa Kristus menjadi miskin sekalipun Ia kaya, supaya kita menjadi kaya oleh karena kemiskinanNya. Saudara Kristus telah membuat kita kaya!
Di dalam Kristus kita memiliki "segala kekayaan rohani di sorga". Perikop yang terdiri dari 12 ayat ini, terdapat kata-kata "di dalam Dia" sebanyak 10 kali dan kata "oleh Dia" sebanyak 2 kali. Jadi harta tersebut ada di dalam Kristus. Dengan kata lain, memiliki Kristus = memiliki segala kekayaan rohani dan sebaliknya,,, tidak memiliki Kristus berarti tidak memiliki kekayaan rohani. Apakah saudara sudah ada di dalam Kristus?

Efesus 1:3 :
" Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga ".

Apa sajakah kekayaan rohani orang percaya ?
  1. Kita adalah orang pilihan Allah, kita adalah anak-anak Allah, ayat 4-5 Dan itu terjadi sudah sejak semula, sebelum dunia dijadikan.... Ini memperlihatkan kepada kita betapa berharhanya kita dalam pemandangan Allah, Yesaya 43:4. Dimanakah anak yang ditelantarkan oleh ibu/bapanya? Walaupun ada orang tua yang melupakan anaknya dan itu sangat jarang terjadi... tetapi Tuhan tidak akan mentelantarkan kita. bnd. Yesaya 49:15-16. Tuhan bahkan telah melukiskan kita di telapak tanganNya, dan tembok-tembok kita tetap ada di ruang mataNya. Sebagai orang pilihan Allah, kekayaan kita adalah : (a) Jaminan keselamatan ( hidup yang kekal), Yohanes 10:28-29; (b) Penyertaan Tuhan dalam hidup, merasa aman di dalam tangan Tuhan; (c) Senantiasa dapat datang kepada Tuhan untuk mendapatkan pertolongan pada waktu yang tepat, Ibrani 4:15.
  2. Kita beroleh penebusan, yaitu pegampunan dosa, ayat 7. Sebelum kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita adalah hamba dosa. Kita terikat oleh dosa dan dosalah yang menguasai kita, Yohanes 8:34. Tetapi kemudian Kristus menebus kita dengan darahNya yang mahal, 1 Petrus 1:18-19. Dan Kolose 2:13 mengatakan bahwa Tuhan Yesus telah mengampuni segala dosa kita. Segala dosa berarti dosa kita pada masa lampau, sekarang dan yang akan datang... itu sudah diampuni oleh Tuhan Yesus, bnd 1 Yohanes 1:8-2:1. Kesadaran bahwa Kristus telah mengampuni segala dosa kita, akan memberi kekayaan lai lagi bagi kita, yaitu : (a) Kemerdekaan, perasaan bebas; (b) Rasa aman; (c) Kemenangan atas dosa. 
  3. Kita dimateraikan dengan Roh Kudus, ayat 13-14. Saat kita percaya kepada Tuhan Yesus kita dimaterankan oleh Roh Kudus yang menjadi jaminan bahwa keselamatan yang Tuhan janjikan kepada kita adalah sesuatu yang pasti akan menjadi milik kita. Roh Kudush juga memberikan kepada kita kekuatan dan kuasa dalam hidup dan pelayanan kita. Paulus menyebutnya sebgai "betapa hebatnya kuasa yang bekerja bagi kita yang percaya", ayat 19 bnd 1 Yohanes 4:4 " Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia".
Jadi tidak ada hal yang perlu kita takutkan dalam dunia ini..., Allah telah menyediakan segala yang kita perlukan untuk kita dapat mengasihi Dia.

Pertanyaan untuk refleksi :
  • Apakah saudara sudah ada di dalam Kristus? Kalau belum inilah saatnya bagi saudara untuk mengambil keputusan menerima dan mengundang Dia masuk dalam hati dan hidup saudara.
  • Renungkanlah hidup kita hari ini. Apakah kita sudah menikmati kekayaan rohani yang ada di dalam Kristus? Apakah kita masih dihantui oleh perasaan takut? Apakah kita masih dihantui oleh perasaan bersalah karena dosa yang telah kita lakukan? Apakah ada dosa yang masih mengikat kita dan sulit untuk kita tinggalkan?
Saudaraku, marilah kita menikmati kekayaan rohani yang telah Allah karuniakan kepada kita... dan hiduplah dalam kemerdekaan. Tuhan Yesus memberkati.  


HIDUP YANG BERARTI

Amsal 16:4 :
TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing,
  
bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.
Buku Renungan Manna Sorgawi menceritakan sebuah Ilustrasi : tentang seorang yang bernama Nancy Jones di Eropah Tengah, yang memiliki umur yang panjang. Dan ketika ia meninggal, reporter berusaha mencari tahu tentang hal-hal istimewa yang ia lakukan yang pantas untuk dikenang... ternyata tidak ada hal-hal yang istimewa yang pantas dikenang. Kisah ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa umur yang panjang tidak menjamin bahwa hidup kita berarti. Kita tentu menginginkan bahwa hidup kita, entah panjang atau pendek adalah hidup yang berarti.

Rick Warren dalam bukunya mengatakan bahwa ada 3 level  / cara manusia menjalani hidupnya. Dan bahwa kita pasti akan menjalani hidup dengan salah satu dari ketiga level tersebut.
3 Level tersebut adalah :
  1. Level Bertahan. Sekedar ada, menjalani kehidupan secara rutin dari hari ke hari, hanya sekedar bertahan, menghabiskan waktu dalam hidupnya, menunggu kematian menjemput.
  2. Level Sukses. Orang pada level ini adalah orang yang berhasil.  Memiliki hidup yang nyaman, sehat, sukses dan bermartabat. Tapi banyak dari orang yang menjalani hidup dengan level ini berkata : “Jika saya begitu sukses, mengapa saya tidak merasa puas??” Jawabannya adalah dibutuhkan lebih dari sekedar sukses dan status… untuk bisa merasa puas.
  3. Level Berarti. Orang pada level ini tidak harus selalu menjadi sukses… tetapi level ini lebih menekankan pada apa yang kita lakukan dalam / dengan hidup kita, dimana pada akhirnya kita merasa puas.
Nah sebagai orang percaya, kita tentu rindu menjalani hidup kita pada level yang ke 3 yaitu  hidup yang berarti ”.

Untuk itu kita perlu menyadari bahwa Tuhan menciptakan kita manusia dengan Tujuan. 
Amsal 16:4
“ Tuhan membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuatNya untuk hari malapetaka”.

Dengan kata lain : segala sesuatu ada tujuannya. Kita  manusia diciptakan Allah dengan tujuan… dan hidup kita akan berarti apabila kita hidup sesuai dengan tujuan Sang Pencipta kita, yaitu Allah (Rick Warren).

Ilustrasi : Sebuah benda (misalnya : Motor, Bak air, dll) akan berarti apabila ia dapat berfungsi sesuai dengan tujuan sang pembuat. Jadi sebagus, sebesar dan semahal apapun… apabila ia tidak berfungsi sesuai tujuan…benda tersebut tetap tak berarti.

Demikian pula manusia, memiliki umur yang panjang, sukses, terkenal, memiliki segalanya …tetapi apabila ia tidak menjalani hidup sesuai dengan tujuan Allah Sang Pencipta … akan menjadi sia-sia.

Tujuan hidup manusia dapat disederhanakan menjadi :
  1. Tujuan Ke Atas (UP) : Matius 22:37 yaitu Mengasihi, Menyembah dan Mengutamakan Allah… Melayani Allah.
  2. Tujuan Keluar (OUT) : Matius 22:39 yaitu Mengasihi & melayani sesama.  (a) Dalam lingkungan yg dekat : sesama org percaya, Galatia 6:10, Efesus 2:10. (b) Dalam lingkungan yang jauh : Memberitakan Injil kepada orang yang belum percaya, Matius 28:19-20.
  3. Tujuan Ke dalam (IN) : Efesus 4:13-15 Bertumbuh dalam karakter menjadi serupa dengan Kristus.
Tuhan Yesus sang Guru agung kita memberikan teladan yang sangat indah kepada kita. Tuhan Yesus, walaupun umurnya pendek, namun hidupnya sangat berarti. Bagaimana kita mengetahui hal tersebut? Dalam sepanjang hidupNya, dan di dalam setiap peristiwa Tuhan Yesus sadar akan tujuanNya datang ke dunia ini.
Perhatikanlah :
  • Usia 12 tahun di Bait Allah, Tuhan Yesus berkata kepada maria dalam Lukas 2:49 Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" Frase “Berada dalam rumah BapaKu” memiliki pengertian berada dalam urusan BapaKu.  Sejak masa mudaNya, Tuhan Yesus menyadari dengan sungguh bahwa Ia datang ke dalam dunia adalah dalam rangka melaksanakan urusan Bapa. 
  • Percakapan dengan perempuan Samaria. Saat para murid menawarkan makanan dan Tuhan Yesus dalam keadaan lapar. Tuhan Yesus justru berkata kepada para murid dalam Yohanes 4:32 :"Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal." Dan dilanjutkan dalam Yohanes 4:34 : "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Dari sini kita melihat bahwa bagi Tuhan Yesus makananNya adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikannya. 
  • Saat Tuhan Yesus berbicara tentang orang yang buta sejak lahir, dalam Yohanes 9:3-4. Ketika para murid bertanya : "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" Tuhan Yesus menjawab bukan karena dosa siapa-siapa… melainkan supaya pekerjaan Allah dinyatakan di dalam orang tersebut. Lalu Tuhan Yesus menegaskan bahwa : “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja”, Yohanes 9:4.
  • Dalam Markus 10:45 Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan memberi nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.
  • Dalam Matius 16:21-23 Ketika Tuhan Yesus memberitahukan bahwa ia akan mengalami banyak penderitaan dan bahkan akan dibunuh: Petrus menarik Tuhan Yesus ke samping dan berkata "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Tuhan Yesus menegur Petrus dengan keras dan berkata : "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." Tuhan Yesus menyadari bahwa Ia harus menjalani semua penderitaan bahkan sampai mati di kayu salib; untuk menyelamatkan manusia yang berdosa.
  • Dan dalam Yohanes 19:30 di atas kayu salib menjelang kematianNya, akhirnya Tuhan Yesus mengatakan “sudah selesai”. Artinya tugas penyelamatan terhadap manusia yang berdosa, yang diembankan Bapa kepadaNya telah selesai.
Dengan demikian, walaupun singkat, hidup Tuhan Yesus sangat berarti.
Hidup kitapun akan berarti bila hidup kita sesuai dengan tujuan Allah. Selamat menjalani hidup yang berarti. Tuhan Yesus memberkati.

Jumat, 09 Desember 2011

MEMPERKATAKAN FIRMAN

Yosua 1:8 :
 "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam,
supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya,
sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung".


Musa seorang yang memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir.... telah mati, Yosua 1:1-2. Maka Tuhan memerintahkan Yosua untuk menggantikan Musa memimpin bangsa Israel memasuki tanah Kanaan.


Saat Yosua menerima tugas tersebut, ia masih muda, dan tugas yang dipercayakan kepadanya bukanlah tugas yang ringan. Karena:
  1. Yosua masih muda dan harus menggantikan Musa pemimpin yang hebat, yang sudah teruji.
  2. Bangsa yang dipimpinnya adalah bangsa yang terkenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk, yang sulit diatur dan suka memberontak.
  3. Tanah yang akan mereka masuki bukanlah tanah yang tidak berpenghuni, melainkan tanah yang penduduknya besar-besa.
Walaupun tugas yang berat, namun Tuhan menjanjikan serta menjamin bahwa Yosua akan berhasil.
  • Ayat 3 : Setiap tempat yang diijak oleh telapak kaki Yosua akan diberikan Tuhan kepadanya.
  • Ayat 5 : Seorangpun tidak ada yang dapat bertahan menghadapi Yosua seumur hidupnya.
  • Ayat 5 : Tuhan berjanji menyertai Yosua dan membuatnya berhasil. Seperti Tuhan menyertai Musa, Tuhan juga akan menyertai Yosua.
Tuhan berjanji bahwa Yosua akan berhasil ... tetapi dengan syarat, ayat 8 :
  1. Memperkatakan kitab Taurat (perkatakan firman).
  2. Merenungkan kitab Taurat siang dan malam (renungkan firman).
  3. Bertindak hati-hati sesuai dengan yang ada tertulis (melakukan firman).
Jadi berhasil atau tidaknya Yosua, tergantung pada bagaimana sikapnya terhadap Firman Tuhan. Dan ketiga hal di atas merupakan sebuah kesatuan yang harus dilakukan secara berimbang / bersama-sama.
Umumnya yang menjadi penekanan orang percaya selama ini adalah yang kedua dan yang ketiga; sementara yang pertama sering diabaikan dan hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu saja, khususnya waktu khotbah.
Tetapi bila kita mulai mempraktekkan secara berimbang, dengan meningkatkan intensitas "memperkatakan Firman" maka kita akan melihat Allah berkarya secara nyata.

Memperkatakan Firman dilakukan oleh :
  1. Allah, pada waktu penciptaan. Allah mengucapkan Firman maka segalanya jadi, bnd. Roma 4:17.
  2. Tuhan Yesus, saat Ia dicobai Iblis di padang gurun. Tuhan Yesus mengucapkan Firman (dengan mengatakan ada tertulis) melawan godaan Iblis dan akhirnya Iblispun mundur dari padanya, Matius 4:1-11. 
  3.  Para nabi dan para rasul, saat mereka berdoa kepada Tuhan dan saat mereka melayani, Nehemia 1:5-11, Kisah Rasul 4:24-30.
Paulus mengatakan bahwa Firman adalah pedang Roh, Efesus 6:17 bnd Ibrani 4:12. Dari banyak senjata yang disebutkan oleh Paulus dalam Efesus 6:10-18, kebanyakan adalah senjata untuk bertahan terhadap serangan musuh. Tetapi Firman = pedang roh adalah senjata yang digunakan bukan saja untuk bertahan terhadap serangan musuh melainkan senjata yang digunakan untuk melawan / menyerang musuh sehingga kita meraih kemenangan.
Sebagai pedang, akan kurang berfungsi secara maximal bila tetap di dalam sarung... pedang harus dikeluarkan dari sarung dan dikebas-kebaskan. Ini merupakan gambaran dari firman yang diperkatakan.

Bagaimana praktek memperkatakan Firman secara nyata ?
  1. Dengan mengkhotbahkan Firman; Firmanlah yang harus disampaikan dalam porsi yang lebih banyak dari pada cerita pengalaman / kesaksian, ilmu pengetahuan dll.
  2. Dengan mengucapkan (berpegang pada) Firman di dalam doa-doa kita. Kita datang kepada Allah berdasarkan janji-janji dari firmannya.
  3. Dengan memperkatakan firman dalam kehidupan sehari-hari, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang di sekitar kita : saat menghadapi pergumulan, saat memberi nasehat, dll.
Dalam 1 Petrus 4:11 : mengatakan bahwa kalau ada yang berbicara, hendaklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan Firman.
Firman itu berkuasa, dan kuasanya akan bekerja secara maximal, saat kita menseimbangkan antara ketiga hal ini (perkatakan, renungkan dan lakukan firman) bnd :
  1. Yesaya 55:10-11 : Firman tidak akan kembali dengan sia-sia.
  2. Bilangan 23:19 : Allah yang berfirman adalah Allah yang pegang janji dan akan melaksanakan apa yang Ia janjikan.
  3. Yesaya 44:26 : Allah akan menguatkan/meneguhkan serta melaksanakan firman yang kita ucapkan.
  4. Yohanes 15:4-7 :Janji Tuhan Yesus bila firman tinggal di dalam kita, maka doa kita akan dikabulkan. bnd 1 Yohanes 5:14 " Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya" . Dan "menurut kehendakNya" = menurut firman Tuhan..

Tuhan sudah menyediakan senjata yang ampuh buat kita, tinggal respon kita; apakah kita mau menggunakannya????? Ingat Amsal 18:21 hidup dan mati dikuasai oleh lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya. Tuhan Yesus memberkati kita.

Minggu, 12 Juni 2011

“ Seorang Penolong Yang Lain “


( Yohanes 14:15-17, 25-26; 16:7-13 )


Pendahuluan.
Hari Kamis 10 hari yang lalu, kita merayakan hari Kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Dan hari ini 10 hari kemudian, kita merayakan hari Pentakosta. Kalau kita memperhatikan dalam kalender, maka kita akan menemukan bahwa hari kebangkitan dan hari Pentakosta selalu jatuh pada hari Minggu. Ini berarti bahwa setiap kali kita beribadah pada hari Minggu, kita debenarnya sedang merayakan 2 peristiwa besar dalam kekeristenan yaitu hari Kebangkitan dan hari Pentakosta.

Tokoh Utama dalam peristiwa Pentakosta adalah “Roh Kudus”, oleh sebab itu hari ini kita kembali belajar tentang pribadi dan karya Roh Kudus.

Latar belakang Yohanes 14:16-17, 16:5-7 : adalah sbb :
-          Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia akan pergi kepada Bapa.
-          Akibatnya : murid-murid menjadi sedih dan berduka. Karena selama ini, bagi murid-murid Tuhan Yesus telah menjadi Penolong bagi mereka. Setiap ada kesulitan, masalah, setiap ada keperluan bahkan perlawanan dari pihak lain…. Tuhan Yesus selalu menjadi sandaran buat mereka. Dan sekarang ketika Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia akan pergi, tentu reaksi yang sangat wajar… mereka bersedih dan seolah-olah tidak rela.
-          Tuhan Yesus, lalu menjelaskan bahwa adalah lebih baik jika Tuhan Yesus pergi, karena :
*      Tujuan kepergianNya…. adalah untuk menyediakan tempat, bnd. Yohanes 14:1-3.
*      Ia akan mengutus seorang Penolong Yang Lain. Kalau selama ini Tuhan Yesus telah menjadi Penolong buat murid-murid, maka ketika Tuhan Yesus pergi, Ia akan mengirimkan seorang Penolong dengan kwalitas yang sama dengan diriNya, Yohanes  14:16-17; 16:4-7.
*      Ia tidak akan meninggalkan mereka sebagai yatim piatu.
Yang dimaksud dengan “Seorang penolong Yang Lain” adalah Roh Kudus….; yang memiliki kesetaraan dengan Tuhan Yesus dan juga dengan Allah Bapa.
Kesetaraan artinya memiliki kedudukan yang sama, tidak lebih tinggi atau tidak lebih rendah…. Artinya dalam “ketritunggalan Allah” : Bapa, Anak dan Roh Kudus memiliki kedudukan yang sama.

Roh Kudus akan diam selamanya menyertai orang percaya.
Dalam peristiwa Pentakosta, Roh Kudus dicurahkan dan mendiami orang percaya secara permanent.

Di dalam Perjanjian Lama :
*      Roh Kudus hanya mendiami orang-orang tertentu yang dipilih Allah untuk melaksanakan suatu tugas tertentu; dan bahwa
*      Roh Kudus juga akan mendiami seseorang hanya dalam jangka waktu tertentu; artinya sewaktu-waktu Roh Kudus akan meninggalkan orang tersebut bila tugasnya telah selesai atau bila ia tidak taat.
Perhatikan beberapa contoh  berikut :
o   Mazmur 51:13 : Doa Daud saat jatuh dalam dosa : “Janganlah membuang aku dari hadapanMu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!”
o   Keluaran 31:1-6 : Bezaleel & Aholiab yang dipenuhi oleh Roh Allah saat melaksanakan tugas membuat peralatan Kemah Suci.
o   Hakim-Hakim 14:6, 19; 15:14 : Simson yang mampu mengalahkan singa, 30 orang di Askelon, orang Filistin saat Roh Allah menguasainya. Tetapi ketika ia tidak taat maka Roh Allah meninggalkannya dan Simsonpun tidak mempunyai kekuatan lagi.
o   1 Samuel 10:6, 10 : Saul setelah diurapi menjadi raja.

Namun di dalam Perjanjian Baru dengan adanya peristiwa Pentakosta; Roh Kudus - menyertai dan mendiami orang percaya selamanya (secara permanent). Kapan hal itu mulai terjadi ? Kapan Roh Kudus mulai mendiami orang percaya ? Efesus 1:13-14  adalah “sejak percaya kepada Tuhan Yesus”.

Roh Kudus adalah “ Seorang Penolong “ bagi orang percaya.
Kata “Penolong” (Yunani : Parakletos) hanya disebutkan 5 kali dalam PB :
1.     Yohanes 14:16 (Penolong) menunjuk kepada Roh Kudus.
2.    Yohanes 14:26 (Penghibur bnd; 15:26; 16:7) menunjuk kepada Roh Kudus.
3.    1 Yohanes 2:1 (Pengantara) menunjuk kepada Tuhan Yesus.
Roh Kudus adalah “ Seorang Penolong / parakletos “ bagi orang percaya, artinya :
o   Yohanes 14:26 : Roh Kudus :
Ø  Mengajar segala sesuatu kepada orang percaya.
Ø  Mengingatkan kita akan apa yang Tuhan ajarkan kepada kita.
o   Yohanes 16:13 : Roh Kudus :
Ø  Memimpin kita dalam seluruh kebenaran.
Ø  Memberitahukan kepada kita tentang hal-hal yang akan datang.
  • 1 Korintus 12:7-11 : Roh Kudus :
Memberi karunia / kuasa / perlengkapan rohani kepada orang percaya supaya dapat melakukan tugas pelayanannya masing-masing bagi pembangunan tubuh Kristus.
  • Roma 8:26 : Roh Kudus :
Menolong kita dalam segala kelemahan kita bahkan saat kita tidak tahu bagaimana harus berdoa, Roh Kudus berdoa bagi kita kepada Bapa dengan keluhan-keluhan yang tak terucapkan.

Aplikasi :
  1. Bersyukur karena Roh Kudus mendiami hati kita dan menyertai kita, sejak kita percaya kepada Tuhan Yesus
  2. Bersyukur karena memiliki Roh Kudus yang menjadi Penolong bagi kita, dalam segala perjalanan hidup dan pelayanan kita.
  3. Belajar terus untuk memiliki kepekaan dan ketaatan pada pimpinan Roh Kudus dalam hidup kita.
  4. Minta / berdoa supaya hidup kita dipenuhi oleh Roh Kudus.



Senin, 16 Mei 2011

”Berbahagia, Orang Yang Mati Di Dalam Tuhan”


( Wahyu 14:13 )

Pendahuluan.
Pada umumnya : Saat orang yang kita kasihi meninggal...., kita akan mengalami kesedihan dan dukacita yang mendalam..... Ini adalah sesuatu yang wajar dan alami.

Apalagi bila orang yang meninggal itu masih muda, rajin dan baik hati.... dan meninggalnya secara tiba-tiba. Pasti keluarga yang ditinggalkan mengalami kesedihan yang mendalam.

Hari ini Firman Tuhan memberikan penghiburan kepada kita semuaWahyu 14:13 :
“Dan Aku mendengar suara dari sorga berkata : Tuliskan : “Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini,” “Sungguh” kata Roh, “supaya mereka boleh beristrahat dari jerih lelah mereka, karena segala jerih payah mereka menyertai mereka”.

Saudara, Firman Tuhan datang kepada Rasul Yohanes supaya di tulis, yaitu  bahwa :
“ Berbahagialah orang yang mati, yang mati di dalam Tuhan”.

Mengapa orang yang meninggal dalam Tuhan berbahagia ? Karena :
1.    Meninggal di dalam Tuhan.
Saudara, tidak semua orang mati itu berbahagia.... hanya orang yang mati di dalam Tuhanlah yang berbahagia. Mengapa berbahagia ? Karena :
Kepada orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus..., Tuhan Yesus memberikan jaminan, bahwa kita memiliki hidup yang kekal / dikumpulkan bersama dengan Tuhan di surga. Bnd :
Ø  Yohanes 14:1-3 : Tuhan Yesus menyediakan tempat bagi orang percaya.
Ø  Yohanes 6:47 : Tuhan Yesus berkata :
“Sesungguhnya barang siapa yang percaya, ia mempunyai hidup yang kekal”
Ø  Yohanes 11:25 :
Jawab Yesus : Akulah kebangkitan dan hidup, barang siapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati”

Orang yang mati dalam Tuhan adalah orang yang berbahagia karena ia sudah percaya kepada Tuhan Yesus. Tempatnya sudah pasti yaitu bersama dengan Bapa di surga.

2.   Boleh beristrahat.
Selama hidup di dunia ini banyak kesedihan, penderitaan, penyakit dll.... Musa dalam Mazmur 90:10 mengatakan bahwa
“Masa hidup kami 70 tahun dan jika kami kuat, 80 tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap”.
Ayat tersebut mengatakan bahwa masa hidup kita di dunia ini berkisar 70 - 80 tahun (dan bisa lebih singkat dari angka tersebut) namun entah berapa lama kita hidup di dunia ini.... panjang atau pendek.... kebanggaan kita dalam hidup adalah penderitaan dan kesukaran. Oleh sebab itu, bersyukurlah kepada Tuhan, karena kita tidak selamanya berada dalam dunia ini.... suatu saat kita harus meninggalkan dunia ini... dan ketika kita meninggal... itulah saatnya bagi kita untuk istirahat dan berhenti dari semua penderitaan kita.
Wahyu 21:1-4 mengatakan bahwa di dalam surga (Yerusalem baru) tidak ada air mata, tidak ada perkabungan, tidak ada dukacita.
Saat kita meninggal dunia, kita telah berhenti dari segala penderitaan di dalam dunia ini dan telah istrahatOleh sebab itu, kalau orang yang kita kasihi di panggil Tuhan..., maka kita perlu merelakan kepergiaannya... walau harus diakui ini tidak gampang. Kita semua..., pasti mengalami dukacita.... tetapi kita semua perlu merelakannya.... karena ia telah senang bersama Bapa di surga.

3.   Segala perbuatan mereka menyertai mereka.
Artinya perbuatan orang yang sudah percaya kepada Tuhan akan mengikuti mereka.
Saudara, kita diselamatkan hanya karena iman kepada Tuhan Yesus & bukan karena perbuatan baik kita, Efesus 2:8-9. Namun, setelah kita percaya kepada Tuhan Yesus kita perlu berbuat apa yang baik sebagai bukti bahwa kita telah diselamatkan, bnd. Efesus 2:10.

Dan apa yang baik, yang kita lakukan setelah kita percaya... itulah yang akan mengikuti kita saat kita meninggal.
Dengan kata lain, bahwa saat kematian adalah saat kita panen.... kita akan menikmati semua jerih payah kita selama di dunia. Kita sudah bekerja, kita sudah melayani, kita sudah mengasihi...... maka kita akan menikmati hasilnya saat kita meninggal dunia.
Dan bahwa segala jerih payah kita di dalam Tuhan tidak sia-sia. Ini memberikan pelajaran kepada kita.... bahwa selama kita hidup di dunia ini.... kita perlu melakukan hal yang baik kepada sesama kita, kita perlu melayani dan menyenangkan hati Tuhan. Dengan demikian kematian kita kelak akan merupakan kematian yang merupakan kebahagiaan bagi kita. bnd  perkataan Paulus dalam Filipi 1:21 "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan". Kematian akan menjadi sebuah keuntungan apabila selama kita hidup.... kita telah hidup bagi Kristus.



Minggu, 08 Mei 2011

“ Warisan Seorang Ibu "

Nats : 2 Timutius 1:3-8 
Dalam Rangka Hari Ibu Internasional (Bulan Mei Minggu ke II)

 Pendahuluan. 
Masing-masing negara memilikiperayaan Hari Ibu.
Hari Ibu di negara kita : dirayakan setiap tanggal 22 Desember.
Hari Ibu Internasional : dirayakan setiap bulan Mei pada minggu yang kedua.
Dikatakan Internasional karena di rayakan oleh banyak negara, seperti negara Amerika, Kanada dan 75 negara lainnya… merayakan pada saat yg sama. Minggu ini bertepatan dengan perayaan hari Ibu Internasional, maka kita akan membahas satu thema khusus untuk para ibu : Warisan seorang Ibu.

Latar Belakang Nats :
Surat ini di tulis oleh Paulus kepada anak rohaninya Timotius.
Paulus pernah mengadakan 3 kali perjalanan PI (Misi).
Ø  PI I : Paulus ditemani oleh Barnabas dan Yohanes Markus.
Ø  PI II : Paulus didampingi oleh Timotius, Silas dan Lukas (Kisah 16).

Dalam perlajanan misi tersebut, Paulus mendirikan Jemaat-Jemaat dan sempat menetap dalam jangka waktu yang cukup lama di Jemaat – jemaat tertentu, misalnya Paulus :
Ø  Di Antiokhia 1 tahun (Kisah 11:26).
Ø  Di Korintus 1 tahun enam bulan (Kisah 18:11).
Ø  Di Efesus 3 tahun ( Kisah 20:31).
Dalam kebersamaan tersebut, Paulus bukan hanya mengajar Jemaat tetapi juga orang-orang yang bersama-sama dengan Paulus. Contoh kebersamaannya dengan keluarga Akwila dan Priskila membuat sepasang suami istri ini cepat mengetahui kesalahan Apolos saat berkhotbah lalu membimbing Apolos.
Saat Paulus melanjutkan pelayanannya ke tempat-tempat lain, Paulus menempatkan Hamba Tuhan muda seperti Timotius, Titus, untuk meneruskan pelayanan terhadap jemaat yang baru saja ia dirikan.

Dalam hal ini, Paulus terus memantau dengan cara memberikan bimbingan, arahan dan dorongan semangat… baik kepada jemaat yang telah ia dirikan maupun kepada hamba Tuhan muda tersebut…. melalui surat-surat yang ia tulis.

Surat 2 Timotius ini, Paulus tulis dari penjara di Roma. Paulus menyadari mungkin ajalnya sudah tidak lama lagi, bnd. 2 Timotius 4: 6-8.

Gambaran tentang Timotius :
Ø  Seorang yg sentimentil / cengeng, mudah menangis krn haru, ayat 4.
Ø  Memiliki iman yang tulus ikhlas, ayat 5.
Ø  Seorang yang memiliki karunia dari Allah, ayat 6, bnd 1 Timotius 4:14.
Ø  Seorang yang penakut, ayat 7.
Ø  Seorang yang pemalu, ayat 8.
Ø  Seorang yang masih muda, 1 Timotius 4:12.
Ø  Seorang yang lemah secara fisik, 1 Timotius 5:23.
Ø  Seorang yang terkenal baik, di Listra dan di Ikonium, Kisah 16:1-2.
Kalau kita memperhatikan gambaran di atas tentang Timotius maka kita dapat melihat bahwa Timotius memiliki nilai min (-) lebih banyak dari pada nilai plus (+). Tetapi walaupun sedikit nilai +, Timotius tetap maju dalam pelayanannya dan ia berhasil.

Hal apa yang membuat Timotius yang memiliki banyak kelemahan tersebut berhasil?
Ø  Bimbingan dari Paulus sebagai bapak rohaninya (sesuai dengan latar belakang nats) dan juga ayat 3 di mana Paulus selalu mengingat Timotius dan mendoakannya siang dan malam.
Ø  Pendidikan rohani dalam keluarga sejak dini, 2 Timotius 1:5, 3:15. Timotius dididik oleh :
Neneknya yang bernama : Lois.
Ibunya yang bernama : Eunike ( Yahudi yang telah percaya kepada Tuhan Yesus) menikah dengan laki-laki Yunani, Kisah 16:1.
Walaupun Timotius lahir dalam keluarga campuran Yahudi dan Yunani, tetapi Timotius sejak kecil dididik dalam aturan Yahudi, mengenal kitab suci sejak kecil, 2 Timotius 3:15. Itulah warisan seorang ibu.

Aplikasi :
Ø  Bayangkanlah bahwa di depan kita ada sebuah jam kehidupan kita …, kita tidak tahu kapan…. Tetapi suatu saat jam itu akan berhenti berdetak dan kita harus meninggalkan dunia ini.
Ø  Pernahkah kita berpikir atau bertanya kira-kira warisan apakah yang akan kita tinggalkan?
Ø  Pada umumnya, kalau kita berbicara soal warisan, maka pikiran kita pasti tertuju kepada : Berapa : deposito…, tanah…, rumah…, atau surat…. dan barang berharga lainnya. Tetapi perlu kita sadari bahwa warisan yang seperti itu… sifatnya sementara.
Ø Oleh sebab itu, kita perlu memikirkan :
·         Warisan apa yang akan kita tinggalkan bagi anak-anak kita dan orang-orang di sekitar kita ? Suatu warisan yang kekal dan tahan lama?
·         Kapan kita perlu memikirkan dan mempersiapkan warisan kita? Bukan tunggu sudah dekat-dekat meninggal…. Tetapi Sekaranglah waktunya !
Wariskanlah warisan iman kepada anak-anak kita dan orang-orang yang ada di sekitar kita.